Selasa, 03 Januari 2017

Mazmur 127

Saya merasa Mazmur 127 mendampingi saya dalam kehidupan ini. Uniknya, Tuhan membukakan ayat demi ayat bertahun2. Tidak secepat itu saya paham. Tidak semudah itu saya menyelami isi Mazmur 127.

Ayat 1a. Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya. Ayat ini saya pasang di undangan pernikahan saya. Saya menjadikannya basis dalam mendirikan rumah tangga. Pendeta Hendri yang memberkati pun mengambil ayat ini sebagai bahan khotbah saat pemberkatan pernikahan saya dan Franky. Pengkhotbah 12: 13 juga mengkonfirmasi bahwa takut akan Allah dan berpegang pada perintah-perintahNya adalah kewajiban semua orang. Yang lainnya, hanyalah kesia-siaan. Ayat ini saya pahami sebelum menikah.

Ayat 2. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah - sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur. Awal pernikahan, saya baru sadar betapaaaaaaa pentingnya perekonomian keluarga. Anak Tuhan pasti dipelihara, tapi saya tetep mau berusaha kerja keras agar bisa menabung dan berinvestasi. Lama-lama, saya terhimpit keinginan saya sendiri. Saya mikirin gimana caranya cari duit lebih, lebih, lebih dan lebih lagi. Pas saya uda mentok, barulah saya mengerti ayat ke-2 ini. Percuma saya bekerja keras mati-matian kalau Tuhan tidak berkati. Berusaha sewajarnya, dan yang paling penting: tidak melupakan Tuhan. Tuhan pasti akan berkati. Berkat yang Ia berikan, gak akan pernah kita mengerti. Matematika Tuhan lain sama matematika kita. PikiranNya pun gak bisa kita selami. Jadi, tidur aja. Hehe. Ayat ini saya pahami setelah kurang lebih setahun menikah.

Ayat 3. Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada Tuhan, dan buah kandungan adalah suatu upah. Ayat ini, baru saya mengerti sekarang! Setelah 4 tahun menikah! Mensyukuri kehamilan kedua ini merupakan hal yang sulit awalnya. Awal2 saya harus bedrest dan itu melumpuhkan saya. Bener2 memukul hati saya. Pelan2 saya belajar meresapi ayat ke-3 ini. Bayi ini, bayi yang saya kandung, adalah milik pusaka Tuhan. Bayi laki-laki ini bukan milik Franky dan saya. Ia adalah milik pusaka Tuhan. Bayi ini adalah suatu upah bagi kami. Entah apa yang telah kami perbuat sehingga layak mendapatkan upah. Tapi saya merasa Tuhan memperhatikan keluarga kecil kami, dan Ia memutuskan memberikan kami upah. Saya gak nyangka Tuhan begitu peduli pada kami. Entah apa yang dipikirkanNya. Maybe.... my best guess is: Jesus loves me that I know... for the Bible tells me so...

Ayat 4. Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Ayat ini belum saya mengerti sepenuhnya. Saya rasa ini akan jadi perjalanan saya yang berikutnya di tahun-tahun mendatang. Saya dan Franky, sebagai orang tua, harus mengarahkan anak-anak kami untuk mencapai titik sasaran seperi pemanah yang membidik dengan tepat. Saya tahu sasaran saya, yaitu menanamkan pengenalan akan Yesus dan menumbuhkan kecintaan padaNya. Yang lain, secondary goals yang gak kalah penting, attitude dan education. Banyaaaaaakkkk banget hal yang harus saya tanamkan dan ajarkan. Di GKI Samanhudi sekarang ada tim konseling, dan teman saya yang ada di tim itu bilang anak-anak sekolah Minggu ternyata banyak yang bermasalah. Sebagai guru, saya tahu masalahnya bukan bermula dari anaknya, tetapi dari orang tuanya. So, untuk menciptakan generasi yang "tidak bermasalah" (yang menurut saya impossible tapi sangat layak diusahakan), saya mau mendampingi anak-anak saya, berusaha jadi teladan iman. Dan the biggest problem from ME yang kira2 udah kebaca adalah PERFECTIONIST dan IT MUST BE DONE AS I SAID. Hahaha God, please guide me!!!

Orang tua yang harmonis akan menciptakan keluarga yang harmonis. Anak-anak akan merasa aman dan betah di dalam lingkungan keluarga, sehingga mereka pun bahagia dan "tidak bermasalah". Kalau mau jadi orang tua yang harmonis, itu balik ke hubungan pribadi kita masing-masing dengan Tuhan Yesus. No one can fix a man. Only Jesus can.

Ayat 5. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang. Ya ya yaa... saya gak ngerti ayat ini. Maksudnya, punya anak yang banyak gitu? Tabung penuh dengan anak panah = banyak anak?? Whattt???? Gak sanggup Tuhaaannn..... Kaga beraniiii.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo tinggalkan jejakmu di blogku! ^.^