Kamis, 15 Juli 2010

Pentingnya Punya Piano

Sejak mulai mengajar piano sekitar dua tahun yang lalu, saya baru menyadari pergumulan dan perasaan guru-guru yang geregetan ngajar murid yang tidak punya piano. Dulu, saya sendiri belum punya piano. Dan ketika saya mau les piano privat pada dua orang guru piano pada kesempatan yang berbeda, dua-duanya nanya: "Kamu punya piano di rumah?" Tentu saja saya jawab: "Gak punya.. adanya orgen.." Secepat kilat, kedua guru itu menolak mengajar saya. Saya sempat bilang: "Saya akan latihan di gereja." Tapi kedua guru tersebut tetap menolak mengajar saya karena mereka yakin saya tidak akan bisa menggunakan piano di gereja secara bebas dibandingkan dengan saya punya sendiri. Puji Tuhan, akhirnya papa saya membelikan saya piano sehingga salah satu dari kedua guru tadi bersedia mengajar saya.

Ternyata, masalah les piano tanpa punya piano masih berlangsung sampai sekarang. Sampai hari ini, murid-murid yang les piano seringkali tidak punya piano, atau latihan di rumah hanya pakai keyboard. Dan, sekarang ketika saya yang jadi guru, saya baru mengerti kenapa waktu itu kedua guru piano itu keberatan mengajar murid yang tidak punya piano di rumah. Saya sendiri mengajar piano pada kurang lebih tujuh orang murid yang tidak punya piano atau hanya sekedar punya keyboard, dan saya mengalami kesulitan ketika mengajar murid-murid ini.

Sebelum saya mengutarakan apa masalah yang saya hadapi ketika mengajar, saya akan terlebih dulu mencoba membuka alasan orang tua yang mendaftarkan anaknya les piano sementara tidak ada piano di rumah.

Alasan yang pertama biasanya adalah masalah finansial. Alat musik piano terbilang cukup mahal karena harga piano second upright saja sekarang sudah 20 jutaan. Sulit untuk mencari yang belasan juta. Sedangkan harga keyboard jauh lebih murah, tidak sampai 10 juta juga sudah bisa dibeli. Banyak orang tua yang menginginkan anaknya bisa pandai bermain piano, tapi apa daya, dana untuk membeli piano belum ada. Saya percaya, banyak orang tua yang sesungguhnya ingin menyediakan fasilitas berupa piano di rumah, namun karena kondisi keuangan belum memungkinkan, akhirnya mereka memutuskan membeli keyboard atau piano electric dengan harapan anaknya bisa berlatih memainkan piano. Menurut saya, dari segi ini sebenarnya orang tua tidak adil juga pada anak-anak. Orang tua berharap anaknya bisa main piano, tapi berlatih dengan keyboard. Bagaimana mungkin? Ini seperti meminta anak bisa berenang tapi tidak mengizinkan dia menceburkan seluruh dirinya dalam air, hanya celup-celup kaki saja.

Situasi seperti ini menempatkan anak-anak pada posisi yang sulit. Anak-anak ini mengalami hambatan yang cukup signifikan ketika belajar piano di kelas. Hal yang paling menonjol biasanya adalah tenaga mereka. Murid-murid yang latihan dengan keyboard di rumah tidak pernah bisa mendapatkan atau meningkatkan kekuatan yang cukup untuk bermain di tuts piano yang lebih berat. Yang berlatih dengan keyboard, biasanya jarinya kurang bertenaga dan mereka kesulitan mengatur tenaga setiap jari. Mereka cenderung bermain dengan suara yang kecil dan bunyinya tidak bisa rata. Setiap mengajar saya mengulang hal yang sama, yaitu untuk menghasilkan tenaga yang besar. Namun, saya percaya ketika mereka sampai di rumah mereka tidak yakin apakah mereka telah berlatih meningkatkan tenaga mereka dengan cara yang benar seperti yang telah diajarkan. Terutama karena tombol volume ada di samping mereka dan mereka bisa menyetel tombol itu sampai volume terkencang. Sebagian murid mungkin tidak yakin dengan cara latihan mereka, sebagian murid lagi mungkin jadi tidak memperhatikan bagaimana menghasilkan suara yang kuat dari jari mereka, toh ada tombol volume!

Mereka yang berlatih dengan keyboard pun sulit membiasakan bermain legato (menyambung). Entah kenapa hampir semua murid saya yang latihan dengan keyboard tidak bisa bermain legato. Setiap kali les, saya setengah mati mengajarkan sampai akhirnya bisa. Anaknya pun sudah dengan yakin bisa membedakan mana bunyi yang legato dan mana yang tidak. Tapi saat les minggu depannya, mainnya kembali lagi seperti semula, tidak legato. Tentunya ini disebabkan karena saat bermain keyboard, entah dengan mengusahakan bunyi yang legato atau tidak legato, hasilnya tetap sama. Jadi mereka berpikir: bunyinya sudah legato, saya sudah benar memainkannya. Padahal saat les, bunyinya masih belum legato. Menurut saya, anak-anak ini kasihan juga. Tiap minggu ditegur mengenai hal yang sama, tapi mereka tetap tidak bisa mencobanya sendiri di rumah.

Kalau memang punya keyboard, kenapa anaknya tidak didaftarkan les keyboard? Kenapa mendaftarkan si anak untuk les piano? Alasan kedua yang seringkali diberikan oleh orang tua adalah: "Katanya kalo bisa piano, pasti bisa maen keyboard juga ya?" Berikut ini adalah uraian saya untuk menjawab pertanyaan orang tua tersebut. Sebenarnya, karena alatnya sendiri sudah berbeda, jadi tuntutan bagaimana memainkannya pun berbeda. Memang tutsnya sama, berupa key-board (papan nada). Nadanya sudah terhampar jelas yang mana do, re, mi, fa, so, dst, tidak seperti biola atau flute yang nadanya tidak terhampar jelas kelihatan. Tapi apa benar semua pemain piano bisa main keyboard? Apakah kita melupakan fitur-fitur canggih yang ada di keyboard? Suara-suara berbagai instrumen, rhythm, kemampuan menggabungkan suara-suara, kemampuan menyimpan data, dsb. Hal yang paling signifikan terlihat dari seorang pemain piano ketika ia diminta memainkan keyboard adalah: mereka bingung bagaimana memfungsikan suara-suara lain yang ada di keyboard, seperti suara flute, clarinet, trombone, saxophone, harpa, biola, dsb. Pemain piano tidak pernah dilatih untuk bisa mengerti bagaimana instrumen lain dibunyikan. Waktu awal-awal saya belajar, saya pun tidak mengerti. Saya tidak tahu kalau memainkan suara flute, harus ada nafasnya supaya terdengar seperti pemain flute beneran yang main, bukan dari keyboard. Dulu saya mainkan saja sebuah lagu untuk flute dari not pertama sampai not terakhir satu nafas. Padahal pada kenyataannya itu tidak mungkin terjadi, karena sang pemain flute harus mengambil nafas. :o Saya juga tidak tahu kalo alat musik brass (trombone, tuba, horn, dsb) punya keunggulan dalam membuat aksen. Saya mainkan suara brass seperti bermain piano dengan arpeggio yang banyak. :D Padahal alat musik yang punya keunggulan di arpeggio selain piano adalah harpa. Nantinya pun pemain keyboard diharapkan bisa memadukan suara-suara yang ada di keyboard, misalnya mencampur suara strings dengan alat tiup atau suara piano dengan suara strings, dan sebagainya. Berikutnya, di keyboard banyak sekali rhythm yang seru dan menarik. Kita juga harus mempelajarinya. Kita harus belajar bagaimana bermain dengan rhythm waltz, rhythm cha-cha, rhythm march, ryhthm salsa, rhythm 8 beat, dan masiiiihhh banyak rhythm lainnya. Alat musik yang digunakan bersamaan dengan rhythm pun punya kecocokannya masing-masing. Jadi, apa benar seorang pemain piano pasti bisa main keyboard? Jawabannya: belum tentu. Banyak sekali yang harus dipelajari untuk bisa memainkan keyboard dengan fasih, terutama menggunakan teknologinya.

Ada lagi orang tua yang menunda beli piano (maunya pakai keyboard dulu) karena takut anaknya tidak berminat main piano, nanti sudah dibelikan mahal-mahal, malah gak dimaenin, jadi sia-sia. Ya menurut saya ini juga tidak adil. Bagaimana orang tua bisa tahu bahwa anaknya minat bermain piano kalau di rumah ia tidak bisa meng-explore pianonya? Pengalaman 45 menit sekali dalam seminggu benar-benar tidak cukup untuk membantu si anak menemukan asiknya bermain piano. Jadi, sediakan dulu pianonya, baru kita punya alat ukur yang tepat untuk mengukur apakah si anak berminat dengan instrumen ini.

Kadang kala ada juga orang tua yang memaksakan anaknya les piano, walaupun bermodalkan keyboard di rumah, dengan pemikiran, "Katanya kalo les piano, itu dasar dari belajar alat musik yang lain ya? Jadi saya pengen anak saya belajar dasar musik yang benar dulu di piano, baru nanti anaknya pilih sendiri di kemudian hari. Karena itu saya menunda membelikan dia piano." Para orang tua, percaya deh, instrumen yang lain pun, seperti biola atau flute, bisa memberikan dasar musik yang benar. Kalau si anak memang tertarik mempelajari musik dengan sungguh-sungguh, ia akan mencari cara untuk bisa mengerti piano secara mendasar, yang akhirnya akan mendukung pengetahuan dan permainan musiknya secara utuh. Lebih baik membantu menemukan instrumen yang tepat untuk anak dan mendukungnya dengan sungguh-sungguh dari segi penyediaan alat, buku-buku, guru, dan kesempatan tampil bagi si anak, daripada memaksakan sebuah instrumen yang membuat si anak bingung ketika ia harus berlatih di rumah dan setiap kali les si anak merasa belum membuat kemajuan, padahal ia sudah berlatih dengan sungguh-sungguh di rumah.

Saran saya, kalau memang alat musik piano terlalu mahal, cobalah alat musik lain yang lebih kecil dan murah dibandingkan piano. Misalnya, biola atau flute. Untuk awal, alat musik ini sangat cocok untuk dipelajari karena harganya terjangkau dan si murid pun harus punya alatnya karena di tempat les tidak akan disediakan instrumennya. Jadi, si murid harus membawa alat musiknya sendiri ketika datang ke tempat les. Hal ini sangat baik karena apa yang diajarkan di tempat les bisa langsung ia praktekkan di rumah, dengan menggunakan instrumen yang persis sama dengan yang ia pakai saat les. Kalau memang tetap ingin memanfaatkan keyboard yang ada di rumah, cobalah les keyboard. Apa yang diajarkan akan lebih 'nyambung' dengan pengalaman si anak sehari-hari dengan keyboard yang ada di rumah. :)

5 komentar:

  1. Ci teph, baru baca2 yang ini.. hehehe.. betul banget tuh, kalo suruh anak belajar jangan dipaksa dan dicariin alat yang bener.. *pengalamn sendiri* hehehe..
    Baru tau kalo maen keyboard musti ada aturannya gitu2.. Aku dasarnya piano, pas disuru maen keyboard bingung2 jadinya malah tancap bleh mau lagunya flute keq ato yang lainnya kayak main dipiano. Trus ga bisa kontrol tenaga juga kalo maen keyboard.. tekennya kekencengan.. sampe2 pas pertama maen, karna stand keyboardkan ga sturdy gitu kan, lus pencetnya kekencengan, keyboardnya hampir terguling.. :)

    BalasHapus
  2. @Mel: iyah kan? Bingung kalo dari piano tiba2 maen keyboard.. Emang laen sebenernya.. Tapi orang2 kirain itu sama. Keyboardnya hampir terguling?? Hahahaha kamu pake tenaga segede apa?? :D

    BalasHapus
  3. Hahaha, tenaganya sih biasa aja.. Tapi kan biasanya kan kalo pas maen yang forte or fortissiomo gitu rada kenceng pencet pianonya kan, biar nadanya kenceng gitu.. kebiasaan mencet di piano yang tutsnya berat, jadi begitu deh.. hahaha

    BalasHapus
  4. @Mel: nah itu dia... itu salah satu hal mendasar yang berbeda.. :D

    BalasHapus
  5. Bagaumana dengan contemporary digital piano? Sama sajakah dgn keyboard?

    BalasHapus

Ayo tinggalkan jejakmu di blogku! ^.^