Selasa, 18 Januari 2011

Pria di Bawah Otoritas dan Visi

Di post yang sebelumnya, saya sempet cerita tentang pengalaman saya untuk tunduk di bawah otoritas. Kira2 begitulah contoh yang bisa saya berikan gimana seharusnya perempuan tunduk di bawah otoritas ortu dan pemantau2 rohaninya selama menunggu si Mr. Right. Kali ini, saya mau bagiin buat yang cowo2. Gimana nih kalo buat kalian? Apa juga nunggu cewe2 telpon terus cerita2in ke ortu dan pemantau rohani? Ya enggak donk ya.. Kalian kan bagiannya inisiator, bukannya waiting. So, I guess banyak dari kalian yang tiba2 'ting!' (artinya: gw tertarik nih sama cewe ini!) and berpikir untuk deketin dia. What to do? Let's take a look a lil bit further..

Ini nih paham yang saya adopsi dari berbagai sumber, dan ternyata mereka memberikan masukan YANG SAMA!! Padahal, prinsip ini berasal dari empat tempat yang berbeda, yaitu:
  1. Abbalove, yang akan diwakilkan oleh Yuliana Stoltzfus lewat blognya.
  2. Mennonite Denomination, yang akan diwakilkan oleh Michael Stoltzfus (suaminya Yuliana Stoltzfus) lewat blog yang sama dengan Yuliana. They share the blog.
  3. IBLP - Institute of Basic Life Principles yang akan diwakilkan oleh pasangan Steven Halim dan Grace Halim.
  4. Joshua Harris yang mewakili dirinya sendiri dalam buku Boy Meets Girl.
Okay, empat sumber yang berbeda tapi mengatakan hal yang sama. Apa sih yang mereka katakan untuk para cowo yang tertarik pada seorang perempuan?

Joshua dan Michael menyatakan secara tegas: CERITA KE OTORITAS KALIAN!! (Boys Meets Girls, p. 18; Godly Courtship "ala" mennonite.)
So, gak cuman cewe yang butuh guardians, tapi cowo juga. Pas cerita ke otoritas kalian, kalian harus mendiskusikan hal2 berikut ini:
  1. Saya udah siap married? Remember what Joshua Harris said,"Kalau kita belum siap untuk suatu komitmen, apa gunanya berhubungan secara intim dan romantis dengan lawan jenis?" So guys, kalo menikah belum ada dalam agenda kalian dalam jangka waktu 2 tahun ke depan (mnrt saya kira2 dua tahun lah..), jangan berinisiatif ngedeketin cewe itu. It will just break her heart karena digantungin, gak dikasih kepastian kapan bakal dinikahin. Mennonite bahkan lebih sadis. Kalau uda mulai pacaran, 1 tahun kemudian HARUS MARRIED! Hehe sadis kan?!
  2. Apakah memulai hubungan yang romantis merupakan hal yang baik untuk gadis itu? Nah, tentang hal ini, kalian gak bisa cuman ngomong ke otoritas kalian doank. Kalian juga HARUS ngomong ke otoritas cewe itu, yaitu orang tuanya dan pemantau rohaninya, tanpa memberi tahu si cewe mengenai minat kalian. Kalian harus cek apakah gadis itu siap memasuki tahap pernikahan atau sedang terlibat suatu hal yang membutuhkan fokusnya sebagai seorang single melalui otoritasnya dia. Kenapa gak boleh kasi tau cewenya sih tentang perasaan kalian? Gak boleh kasih tau karena hal ini penting untuk menjaga hati para cewe, spy mereka gak punya balon2 imajinasi yang beterbangan di udara mengenai kemungkinan tentang kalian berdua, spy mereka bisa fokus memenuhi her single life mission yang Allah taruh di hati mereka. Gitu..
Untuk Steven Halim, lewat bukunya Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta, dia nulis bahwa di IBLP diajarin bahwa tiap perempuan harus bawa cowo yg lagi pedekate ke papinya (otoritas). Steven mengerti hal itu. So, sebelum dia menyatakan perasaannya ke Grace, dia udah minta izin dulu dari papinya Grace untuk nembak si Grace. Mengapa penting minta restu ortu? Ya sekali lagi supaya hati para cewe gak terluka. Bayangin kalo cowonya udah deketin cewenya dulu, dapetin hatinya, gak bisa lepas, lengket kaya perangko, tiba2 ortu cewe bilang: "Kami GAK SETUJU!" Jedeeeerr!!! Doesn't it just break her heart? And yours, too, guys??

Makanya penting banget deh buat cowo2 minta restu dari bonyok si cewe kalo mau minta anaknya buat kalian. Mereka adalah protectors yang ditempatkan Allah untuk melindungi your future princess! Sama aja halnya dengan ortu kalian. Kalian butuh dapet restu dari ortu kalian sendiri sebelum deketin seorang cewe. Saya salut banget sama Michael Stoltzfus (an American) yang tertarik sama Yuliana (an Indonesian). Dia bertahan 3 tahun (bayangin bo! 3 tahun!) untuk gak bilang ke Yuliana kl dia tertarik. Dia tanya pendapat papanya ttg hal ini, terutama karena mereka berbeda kebangsaan dan ada banyak perbedaan lain yang harus jadi consideration. Take a look at his letter to his father here Chapter 3 part B/ When God worked to Mike's heart Gileee!! Salut!! He shows submissiveness under his authority!

Terus, ada satu kalimat yg saya suka banget: because I felt like if I don't really know what God's calling is for me, how can I know what kind of a wive to look for? Wah! Keren banget! Si Mike ini sadar betapa pentingnya untuk mengenali panggilan Tuhan buat dia, sebelum dia mengenali kriteria calon istrinya. Bener banget! Mengingat si Mike ini adalah pelayan dalam bidang misi, dia sering pindah2 tempat. Dia ke Aceh, ke Jogja, ke Malaysia, balik lagi ke Amrik, ke Thailand, dst untuk ngurusin pelayanan misinya demi reach orang2 di daerah terpencil dan mewartakan kasih Kristus. Kalo istrinya gak punya hati yang sama, gimana dia mau ikut si Mike? Kalo Mike-nya sendiri aja gak yakin emang pelayanan misi adalah panggilannya, dia mo ngomong apa sama si cewe? Maukah kau menemaniku dalam hidup ini untuk... sekedar makan bareng? nonton tv bareng? Itu sih bukan panggilan hidup namanya! Bukan visi! So, sekali lagi, saya rekomen kalian baca Visi untuk memperjelas apakah kalian sudah punya visi atau belum.

Steven Halim juga memikirkan hal yang sama, yaitu visi. Doanya yang lengkap bisa kalian lihat di A prayer for a life partner. Bagian pergumulan tentang visi yang ini nih:

I come with my own family background, my character, my vision, my self...
I want to be a university lecturer in the future... will she be able to accept that?
I have many very bad characters... will she be able to accept that?
Can she accept me as what I am...?

....

I hope that I can find a wife of noble character, but who can find her...? (Proverbs 31:10)
She will also carries her family background, her character, her vision, her self...
Will her vision be compatible with mine...?

See?? Dia memikirkan tentang visi yang sama. It is in his consideration long before he gets married, dan pada akhirnya mereka pun membentuk visi keluarga mereka sendiri. :) Kalo dari awal emang visinya berbeda, hmm harus bener2 dipikir ulang.

Okay, enough soal visi. Kembali ke paham yang sama dari 4 sumber berbeda. Terakhir dari komunitas Abbalove. Saya ikut komsel Abbalove sejak Agustus 2009. Sejak saat itu, saya mulai akrab dengan istilah 'mentor' dan 'BPN (Bina Pra Nikah)'. Saya jadi tahu kalo tiap pasangan itu ada mentornya, bahkan ya ituh, pas baru ada rasa2 tertarik gmn gitu, uda mesti langsung cerita ke mentor. Apalagi nanti pas uda jadian, dimentor terus tuh. BPNnya juga lama. According to Yuliana Stoltzfus, BPNnya 3 bulan! Jadi ya bener2 diuji deh pasangan itu bener2 meant to be together apa kaga. Beda banget sama di GKI Samanhudi yang cuman 2 kali pertemuan bina pranikahnya. Karena GKI kayanya belum punya 'a love school', I think I need to learn dari komunitas Kristen lain. Saya sama sekali tidak bermaksud menjelekkan GKI lho (sendirinya kan anggota GKI!).. Saya hanya merasa perlu masukan dari komunitas lain. Dan puji Tuhan, komunitas Abbalove ini memberi pandangan yang sangat menolong saya. Saya merasa diberkati dengan komunitas ini.

Jadi, kesimpulannya, cowo2, kalo mo deketin cewe2, pastikan kalian siap married (salah satunya dengan mengetahui visi yang Tuhan tanamkan untuk kalian itu apa), abis itu tanya otoritas kalian dan otoritas cewe itu. Kalo semuanya positif, you can go ahead untuk ngomong ke cewenya langsung! Dan selalu yang terutama, lakukan semuanya dengan bertanya lebih dahulu pada Tuhan Yesus. To pray is a MUST!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo tinggalkan jejakmu di blogku! ^.^