Kamis, 30 Juni 2011

Independence

Ini adalah butiran gula pasir pertama yang harus meleleh menjadi setetes karamel pertama.

Read the introduction first
HERE.


Kalo ada yang baru jadian, kira-kira apa yang pasangan baru ini rasakan? Seneng? Iya dooonkk... Berbunga-bunga? Pastinyaaaa... Terbang ke langit ke tujuh? Bisa jadi! Dan tentunya sejuta perasaan hepi lainnya. Terus, gimana dengan saya? Yah, sejujurnya saya tidak merasa seperti yang saya tulis di atas. Perasaan yang cukup dominan saya rasakan adalah: perasaan menyesal. Ho....

Hal pertama yang terlintas dalam pikiran saya adalah saya harus menyesuaikan mimpi saya dengan mimpinya. Dan ini bisa berarti saya kehilangan mimpi saya. Hiks... T.T Saya bermimpi suatu hari nanti saya jadi orang sukses. Jadi seorang wanita yang cantik penuh gaya, berkecimpung di dunia pendidikan piano, punya murid banyak, kasi seminar pedagogi piano ke mana-mana, bikin buku teori musik sendiri untuk anak-anak Indonesia, mungkin nulis lagu juga, belajar piano lagi, ngembangin silabus dan kurikulum, ngaturin konser2 murid, etc etc.. Saya bayangin diri saya sibuk. Bentar2 angkat handphone karena harus ngurusin jadwal ketemuan dengan orang2, deal harga sewa piano untuk sebuah performance, mimpin latihan2 dan gladi resik, nyusun rundown acara, pesen catering untuk konsumsi peserta latihan, dsb dsb. Dengan begitu, saya pasti bisa punya duit banyak untuk menjaga kelangsungan hidup saya. Bisa beli baju bagus, sepatu bagus, tas bagus, dan makeup bagus. Penampilan saya pasti meyakinkan, menunjukkan saya seorang yang pintar, menarik, produktif, dan independen.

Kalau saya punya mimpi seperti itu, udah jelas saya gak bermimpi punya kehidupan rumah tangga. Saya gak pernah bermimpi jadi ibu rumah tangga dan punya anak. Gila, terkurung di rumah sambil bersih2 pegang kemoceng n nyuapin bayi. Penampilan saya pasti kotor. Wong maenannya ma debu n anak kecil molo! Tau sendiri anak kecil kerjaannya cuma makan, tidur, pup, makan, tidur, pup... Belom lagi urusan dapur. Masak sih uda pasti keringetan. Makin lepek aja dah. Terus pas laki pulang, kita dilarang memborbardir dia dengan keluhan seberapa capenya kita di rumah. Karena itu namanya kita egois, mentingin urusan kita duluan dibanding urusan suami. Harusnya melayani dia, siapin minum, siapin aer panas, siapin baju, siapin makan malam, bla bla bla... pip pip BORING.. pip pip BORING.. Gile yeh! Terikat dalam sebuah pernikahan tuh bener2 sama dengan bunuh diri! Mana yang untuk kepentingan gw????!!!!

Lagian jaman kaya gini masi jadi ibu rumah tangga? HEEELLLLOOOO!!!! Emansipasi kaleee!!! Perempuan juga bisa kok berkarya. Do something outside the house, prove that herself is capable of taking care of herself, make a lot of money, be stylish, and be happy. Kita udah merdeka!! Independen!! Cewe2 bisa jadi pemusik, jadi penulis, kuliah sampe S3, jadi menteri, jadi presiden, dsb. Semuanya udah boleh! Gak usah diem di rumah ngupasin wortel sambil nonton gosip doank!

Tapi....

Sekarang Tuhan Yesus izinkan saya masuk ke dalam kelas karamel. Inilah kelas pelatihan saya sebelum menjadi seorang istri, baik dengan pasangan yang ini atau bukan. Saya harus belajar melepaskan mimpi saya untuk menjadi seorang wanita yang independen. Saya gak bisa lagi mikirin mimpi saya doank. Saya mesti cari tau apa mimpi pasangan saya. Apakah dia ingin punya pasangan yang sibuk luar biasa, sehingga tidak punya waktu untuk mengurus rumah dan anak-anak? Ataukah dia akan lebih menghargai jika nanti pasangannya masih ada waktu mengurus rumah tangga di tengah-tengah kesibukannya mengajar piano? Kalau pasangan saya mau pergi meninggalkan negeri ini, apa saya juga siap untuk ikut dia pergi ninggalin keluarga dan pekerjaan di sini? Kalau pasangan saya mau menjual rumah karena ingin memberi lebih banyak untuk lembaga sosial, akankah saya siap?

Kelas karamel membuat saya berpikir lebih banyak tentang 'Kalau..' Seandainya saya tidak masuk kelas karamel, saya gak akan memikirkan 'Kalau2' seperti yang saya sebutkan di atas. Yang ada, saya tahu pasti harus ambil tindakan apa. Semua bisa saya atur sendiri tanpa tanya pendapat pasangan. Saya memegang kontrol atas hidup saya 100%. Being independent is much easier than having a partner. Tapi sekarang kalau ada partner, saya mesti tanya pendapatnya... dan belum tentu dia akan setuju dengan apa yang saya ungkapkan. Saya gak bisa memegang kontrol 100% lagi atas hidup saya, mungkin hanya boleh pegang 20/30/50% doank. I am losing my total independence.

Honestly, rasanya sulit banget! Saya gak rela. Sekali lagi, saya gak rela.

Saya baca review Preparing to be a Help Meet yang ditulis oleh ci Erlyn. Pelajaran pertama yang harus dilakukan oleh pasangan baru adalah menyesuaikan diri. Lengkapnya baca di SINI. Saya bener2 ketampar pas baca bagian ini:

Elisabeth Elliot dalam The Mark of a Man wrote this,
If you find a woman who is ready to go where you go and do what you do without brooding about being "her own person", you'll have found a treasure.
She will have to be a woman who has submitted herself to God, first of all, because otherwise she'll be listening to the insistent voices around her, telling her that she's got to be independent and autonomous, that she ought not to be "only" somebody's wife or somebody's mother, that she needs to seek fulfillment for herself and that can only be found beyond the bounds of home.
If, having submitted herself to God, she understands that what He had in mind when He made her was response - in order that both man and woman be fulfilled - she will be at peace with the arrangement.

nyang artinyaa..
Jika kamu menemukan seorang wanita yang siap pergi ke manapun kau pergi dan melakukan apa yang kau lakukan tanpa memikirkan tentang "menjadi dirinya sendiri", kamu menemukan sebuah harta. --> JLEB! Gw bukan harta..
Dia adalah seorang wanita yang pertama-tama menundukkan dirinya kepada Allah, karena jika tidak demikian, dia akan terus mendengarkan suara2 di sekitarnya yang mengatakan bahwa dia harus menjadi mandiri dan punya kekuasaan, bahwa dia tidak perlu "hanya" menjadi istri seseorang atau ibu dari seseorang, bahwa dia perlu mencari pemenuhan untuk dirinya sendiri dan itu hanya bisa ditemukan di luar batasan rumah.
Jika ia telah menundukkan dirinya kepada Allah, ia mengerti bahwa apa yang Allah pikirkan ketika Ia menciptakannya adalah respon - dengan tujuan agar pria dan wanita menjadi penuh- dia akan merasa damai dengan rancangan tersebut.

Nampar abbiiieezzzz!!!! Suara2 kemerdekaan wanita yang sudah saya dengar sejak kecil, kini harus saya kesampingkan. Saya harus menolak mendengarkannya, apalagi mengizinkannya menguasai hidup saya. Hubungan ini gak akan bisa berjalan seperti yang Tuhan mau kalau saya mempertahankan kemerdekaan total saya. Tuhan maunya kita, yang perempuan, tunduk pada pria.

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.
Efesus 5:22

See? Tuhan mau kita yang perempuan belajar menundukkan diri pada pria SAMA SEPERTI kita tunduk kepada Tuhan. Wuuiihh susah beneeerrr... Tunduk kepada Tuhan, saya tau rasanya. Pasti jauh lebih baik! Yah kan Dia itu Tuhan. Dia tau segalanya dan Dia udah kasih tau bahwa rancanganNya untuk saya adalah rancangan damai sejahtera, yang penuh harapan (Yeremia 29:11). Tapi, kalau tunduk di bawah seorang pria? Come on!! Dia juga manusia kaleee, pendosa juga, sama kaya saya. Bagaimana mungkin saya menundukkan diri pada seorang pria SAMA SEPERTI kepada Tuhan? Bagaimana mungkin melepaskan kemerdekaan total saya untuk mengambil keputusan dan lebih mempercayai keputusannya? Lord, I really need Your help in this!

Memang ayat Efesus 5:22 berbicara tentang hubungan suami istri dan sekarang saya belum jadi suami istri. Tapi di sinilah poin dari kelas karamel ini. Di kelas ini, saya perlu latian dulu ngembangin sikap-sikap yang diperluin nantinya dalam rumah tangga. So, here it is. My first lesson, losing my total independence for the Lord wants me to submit to the man.

Sekarang, setelah saya mengingat firmanNya, saya gak mau mikirin perasaan menyesal saya lagi. Saya mau belajar. Saya mau melihat kesempatan masuk kelas karamel ini sebagai sarana Tuhan membentuk saya makin serupa dengan Dia. Saya gak mau diri saya dipenuhi oleh perasaan dan pikiran negatif (seperti mempertahankan total independence) yang bisa merusak hubungan ini.

Dalam bukunya, Preparing to be a Help Meet, Debi Pearl mengajarkan bagaimana saya harus berdoa.

Ask God to give you the wisdom to clear your soul of this plague of negative thoughts.
Fill your soul with the beauty of a good thought-life.

artinya:
Mintalah pada Tuhan untuk memberikanmu hikmat untuk membersihkan jiwamu dari wabah pemikiran2 negatif. Isilah jiwamu dengan keindahan dari pemikiran yang baik tentang kehidupan.

So, here I pray, Lord.
Tuhan Yesus, tolong bantu aku melepaskan kontrol total atas hidupku. Jangan biarkan ketakutan2 dari pemikiran negatif ini menguasai diriku. Isilah jiwaku dengan pemikiran2 yang positif, yang optimis. Aku percaya kalau Tuhan izinkan aku masuk ke kelas karamel ini, Tuhan mau membentuk aku lebih indah lagi, makin serupa denganMu lagi. Tuhan pasti punya rencana yang indah di akhir kelas karamel ini. Aku mau belajar, Tuhan. Mampukan aku dengan kasihMu. Bantu aku ya, Tuhan Yesusku. Aku bersedia melepaskan independensi totalku. Amin.

So girls, yuk sama-sama belajar ngelepasin our total independence dan bersedia memberikan diri berada di bawah pimpinan si pria. :)

31 komentar:

  1. *jleb...jleb..jleb...*

    BalasHapus
  2. Senang melihat perkembangan adikku ini... You will be a treasure!!!

    BalasHapus
  3. ia tep emang berat yach ngelepasin keinginan kita,
    tapi lebih berat lagi kalo keinginan kita yg terjadi ga sesuai dengan kehendak Bapa.
    berantakan deung, ancur cur cur....

    aku juga mau diubahkan Tuhan, belajar melepaskan keinginanku dan belajar taat kepadaMu serta kepada PHku kelak
    ^_^
    Tep, makasih dah posting ini,
    wah keren juga perumpamaannya karamel,,, mau mau juga dunks meski panas
    btw blog ringofblessnya kog gak bisa dibuka yo, hasil gak ada tulisannya :(

    BalasHapus
  4. hi, stephi, salam kenal...

    Post yang ini persis banget dg yg lagi bertumpuk di otak ku akhir2 ini hehe. Anyway, klo boleh share, karirku skarang tdk memungkinkan bwt stay n settle d satu t4. Klo msh single, ga masalah, tp klo udah married, pasti berat dong klo suami yg ngikut istri pindah2. Gimana dg karirnya sendiri? So,Ga papa deh klo harus keluar dari karirku sekarang (yang kata orang dream job banget :p) Tapiiii, inside my heart, okey, keluar gampang... Tapi habis itu, kan berarti harus bergantung dari suami, siap ga ya ga punya gaji gede lagi? siap ga ya buat ga beli barang2 branded lagi? siap ga ya ga bisa ngeborong buku lagi???

    Huaaaaa....

    hehe, just share sih, Steph. Just to show you that you're not alone on that caramel class.

    :)

    BalasHapus
  5. So u've found someone steph? Good for you... Kl mnrt gw sih baiknya adalah jika mimpimu dan mimpinya bs bersatu jd mimpi kalian berdua. Klpun hrs melepas salah satunya..lepaskanlah dgn penuh kerelaan.. :)
    Anyway maybe someday I need to talk to u.. :)

    BalasHapus
  6. @Mega: emang lu juga bergumul ttg independence Meg?

    @Ko Alung: HOPEFULLY KO!!! thanks yaa!!

    @Uly: bener banget Uly! Lebih berat lagi kalo ga sesuai ma keinginan Bapa. Ayo sama2 jadi karamel, Ly! Mari kita meleleh bareng2.. *halah* itu link Ring of Blessing-nya uda aku bikin lagi. Coba deh, sebenernya pas awal aku coba juga udah bisa sih.. Tapi skrg kamu coba lagi aja. :)

    BalasHapus
  7. @Dhieta: Hai salam kenal juga!! Wah ternyata pergumulan kita sama yah.. Huuggss!! Dhiet, jadi apa sebenernya emansipasi wanita ini bukan hal yang 100% baik yah? Kita malah jadi pengen setara ato bahkan lebih tinggi dari pria. Padahal Tuhan maunya gak begitu.. Hm...

    @Laura: Bukan I have found Lau, tapi I am found. He finds me, not me finds him. Yep, iya paling enak jalan tengah gitu ya. Bikin mimpi baru untuk berdua. Tapi, if it needs me to let go my whole dream, gw belajar deh buat rela. :) Wah, ini ajakan kencan nih Lau? Kapan? Mau donk ngobrol ma lu lagiii hehehe *kangen*

    BalasHapus
  8. Waaah, pertanyaanny syusyaaahh, hehe...

    Klo mnurut gw sih, blueprint Tuhan tuh gini: Dia nyiptain pria dan wanita "setara" tapi dg "peran" berbeda. Tapi duluny wanita dianggap lebih rendah dari pria. Nah, ide awal emansipasi kan "penyetaraan", biar cew pny hak yg sama kaya cow: bisa sekolah, bisa kerja, de el el. Eh tapi lama2, peran yg td ny berbeda jg mo disamain. Misalny: peran pemimpin yg jatahny cow mo direbut jg sama cew. Di titik inilah emansipasi jd berantakan dan ga sesuai dg blueprint-ny Tuhan...

    Itu menurut gw sih, wkwkwkwk, tau deh bener apa ngga... :p

    BalasHapus
  9. @Dhieta: Ic ic, gw rasa pemikiran lu tepat Dit. :) Penyetaraannya sebenernya dalam hal 'KESEMPATAN BELAJAR DAN BERKARYA' yah, tapi bukan penyetaraan dalam 'PERAN'. Eke setuju. Mestinya emang kesempatan belajar dan berkarya yg kita dapet, kita aplikasikan dalam peran kita masing2, gak pake berebutan ma lawan jenis. Hmm good one! Thanks!

    BalasHapus
  10. Wah, Steph :) hihi, apa kamu dipanggil Fani biasa?! Kamu dah beli buku Preparing to be a Help Meet jadinya? Good for you :)
    Btw, aku dah tulis 3 Types of Women-nya :) hihi

    BalasHapus
  11. Wah Steph (apa kamu biasa dipanggil Fani) :)
    Kamu dah beli Preparing to be a Help Meet? Good for you!!!

    Kamu dah pernah baca Let Me Be a Woman - nya Elisabeth Elliot belum? Itu juga bagus banget to learn more :) Aku ada catet dikit banget di blog-ku:
    http://ringofblessing.blogspot.com/2010/10/let-me-be-woman-by-elisabeth-elliot.html

    Be blessed, girl!!!!

    BalasHapus
  12. @Ci Erlyn: orang rumah aja ci yg manggil Fani.. Sisanya rata2 tepgun, ato gugun, ato Steph.. haha
    Aku belom punya ci buku itu. Cc pesen dr inet ya belinya? Aku jg lom pernah baca Let Me be a Wowan. Huuaaaa maaauuu!!!! Aku mau liat ah 3 types of women n let me be a woman-nya di blog cc. Yihaaa!!!! Assiiiikk!!!! hehehe

    BalasHapus
  13. setujuuuu.. gw mau jg donk jd karamel..
    gw dulu pny pemikiran sama spt lu, gw pengen jd wanita karir and ga mau merid cpt2, biar gw bisa shoping and keliling dunia tanpa ada beban anak ato suami..
    Tp kata Tuhan "RencanaKu bukanlah rencanamu."
    dan apa yg ga terpikirkan oleh gw, itu bole Tuhan ijinkan terjadi and gw bersyukur Tuhan memberikan gw pemikiran yg baru dan hati yg baru utk menghargai apa yg uda Tuhan berikan dlm hidup gw, meskipun gw ga bisa menjadi yg spt gw impikan tp gw mau belajar utk jadi yg terbaik utk Tuhan,keluarga, tmn, and my future husband ^^
    sama2 blajar nyokkkk..biar kita dbentuk Tuhan jd spt pearl..cia yo teph...
    nice sharing *again*
    jd bersemangat ^^

    BalasHapus
  14. Sekarang si kalo dibilang bergumul kurang tepat, hehehehehe, tapi aku ngerasa nyaman mandiri Steph, ga terbayang harus tunduk pada seorang pria dan menganggap pendapatnya lbih baik dari apa yang aku pikirkan, mungkin karena aku blom mlihat pria yang membuatku rela 'menundukkan' diriku ^^'

    Kupikir masalah 'menundukkan' diri ni akan lebih mudah kalo pria yang bersama kita nantinya adalah pria yang kita tau mengasihi kita Step. Saat kita tau kputusan ato tindakan yang diambilnya karena dasar kasih, ga sulit buat kita untuk tunduk. Errr...ini pikiranku aja sih....

    Mangkanya aku salut sama wanita kayak Debora, dia dikenal sebagai seorang istri, ibu dan hakim buat bangsanya, wowwww.....Dia ga mlepaskan panggilannya kok waktu dia berkeluarga, tapi dia bisa mengerjakan semuanya. Mantap d^^b Seandainya Bu Debora ni bikin blog, kayaknya aku jadi followernya deh, gkgkgkggkgkgk

    BalasHapus
  15. go go girl!! btw jadi ibu rt is really not that bad!! :D we're shaping the next generation for Christ! :D

    BalasHapus
  16. @Leni: ayo bareng2 meleleh Leeeennn!!! kita sama2 jadi karamel buat Tuhan,keluarga, tmn, and future husband. thanks juga utk reminder-nya: RancanganKu bukanlah rancanganmu. Ho... ayo semangaaaaatttt!!!!!!

    @Mega: ya mungkin belum melihat pria yg bisa bikin kmu rela utk menundukkan diri. ^^ eh, u know what? yg kmu bilang itu betul lho --> "masalah 'menundukkan' diri ni akan lebih mudah kalo pria yang bersama kita nantinya adalah pria yang kita tau mengasihi kita" dan juga lebih mudah kalo he has proven himself as a righteous man who loves Jesus more than anything else. :)

    Hakim Debora? iya gw juga salut tuh ma dia!! multitasking banget! ngejalanin peran gitu banyak, hebat!! hahaha saya dia gak bikin blog skrg. kalo dia bikin, kira2 ky apa ya tulisannya? mungkin ada 1 label sendiri: strategi perang. ckck mantab lah bu debora!

    @Ci Grace: iya sebenernya shaping the next genereation for Christ bukan tugas yang gampang yah ci... pdh itu honorable bngt... tapi kenapa skrg cewe2 (stlh liat komen temen2 di sini), bnyk jg yg ga pengen jadi ibu rt ya? terlalu terpengaruh semua sama emansipasi kayanya..

    BalasHapus
  17. Tul tu Steph, kalo pria ini bner2 mengasihi Allah dan aku, gak ada ketakutan diinjek2 saat tunduk, karena aku tau lah ya, waktu dia mau mcm2, pasti BABE nyentil kupingnya dan bilang,"Hei, jangan kau sakiti putri-Ku Mega." dan dia ini bakal tunduk pada BAPAku, hehehehehe.

    BTW, aku pengen kok jadi ibu RT Steph, tapi kalo bisa sih tetap juga berkarya di luar rumah.*maruk.com* Hahahahahaha

    BalasHapus
  18. Ga bisa dipungkiri lagi di jaman sekarang ada satu character yang mulai bertumbuh di wanita...pride. Jaman duulu mungkin pride adalah sesuatu yang penting bagi pria dan itu adalah segalanya bagi mereka karena itu mereka pingin sekali dihormati.

    tapi jhaman skarang mungkin karena ini jaman emansipasi bagi wanita, pride di wanita pun mulai bertumbuh dan mereka juga ingin dihormati dan mempunya role yang sama dengan pria..they think role mereka selama ini sama seperti pembantu. mereka harus stay di rumah dan melayani suami mereka dan anak2...

    I'm very blessed with this blog. I must say that men and women have to know their role in God. Wives must submit to their husband, and husbands must LOVE their wife. Komen gue bukan untuk membela kaum pria agar minta di respect oleh wanita, bahkan ini justru harusnya juga memberi suatu reminder bagi kita (pria) untuk lebih mencintai our wife/ soon to-be wife hehehe

    nice blog. keep writing and be blessing to other people. Gbu

    BalasHapus
  19. @Mega: bener banget Meg!!! Kalo dia mengasihi Allah, dia pasti tau bahwa mengasihi kamu = mengasihiNya. So, dia ga akan sembarangan nyakitin kamu. Oh wow, hebat Meg elu pengen jadi ibu RT! Pasti nanti bisa lah diatur waktunya spy bisa di rumah n tetep ngerjain hal lain di luar rumah. :)

    BalasHapus
  20. @Ebnu: iya ya.. skrg pride jadi milik cewe juga. padahal.. klo dipikir2 ya cong, gw kayanya gak segitu senengnya kalo dipuji nilai2 akademis gw bagus. lebih seneng kalo ada yg peduli ma kesehatan gw, kegiatan gw, keamanan gw. hahaha eh bener tuh! gw pikir Ibu Rumah Tangga = Pembantu Rumah Tangga. wkwkwkwkw ngaco dah! :D

    yep yep, ayo yg pria2 juga belajar mengasihi istri/calon istrinya masing2 seperti KRISTUS MENGASIHI JEMAATNYA... hahaha what a task, guys! Have fun! *mengingat diri sendiri suka ngambek gak jelas, pasti pe-er buat yg cowo2 terasa susah yaaa :p*

    glad that my blog bisa jadi berkat buat yg baca. It's Him working. ^^ GBU2!

    BalasHapus
  21. cici ini baguuuuuuuuuuuuus.....hahahaha..
    akuuu baruu bacaa.. telaat abiss dahh.hahaha..

    cici aku jd terinspirasi utk nulis ttg social permission.. bner ga cii??hahaa..

    BalasHapus
  22. @Kezia: hahaha gpp Kez. bener kok social permission.. :) mana, mana tulisannya?

    BalasHapus
  23. belon bisa juga bukanya tep, maybe inet gw yg lelet abis...
    anytime gw coba lagi dehhh, belajar sabar aja dengan inet yg super duper lelet abis ini (hehehe lebaynya kambuh)

    BalasHapus
  24. Chindy Eka Ariesta6 Juli 2011 05.32

    Memang yaa tep, cinta aja ga pnh cukup tp mengesampingkan ego sendiri yg kdg sulit XD saia mw dung ikut kelas karamel tepgun jg ;)

    BalasHapus
  25. @Uly: yep yep belajar sabar deh Uly! ato, mungkin mesti upgrade inetnya? *hanya saran lho, bukan menghasut ^^v*

    @Chindy: yok Chin ikutan masuk kelas karamel!! :)

    BalasHapus
  26. Hyaa...lama ngga check blog, ada kabar gembira rupanya. Congrats Steph, smakin belajar banyak hal, smakin bertumbuh dan dibentuk jd karamel yg manizz dan yummy. ^^
    Mending jadi "Caramel Woman" dulu sebelum masuk dlm pernikahan yah, coz marriage is not easy but it full with mercy ;) (Abiz ngomong ini jg ke Sisca bbrp jam yang lalu, hehe) Jia you sist!!! Smangat trus melayani Tuhan

    BalasHapus
  27. @Ci Lisa: ci thanks banget buat supportnya. Aku mau ah jadi karamel yg manizz dan yummy. En aku setuju beratz dengan kalimat cc:Mending jadi "Caramel Woman" dulu sebelum masuk dlm pernikahan yah, coz marriage is not easy but it full with mercy. ^^b abis ngomong gt ke ci sisca? hmmm ad apa yah? hehehe cc juga, ciayo!

    BalasHapus
  28. saya ga bisa blg ga setuju 100% sama tulisan ini, ada benernya juga sih, tp kalo buat saya, tulisan ini berat sebelah. Hidup cm sekali. umur 17 cm sekali, 20 cm sekali, dan seterusnya. jgn sampai kita ud umur 30 taon, trus liat kebelakang dan nyesel krn pernah ngelepas mimpi kita demi rumah tangga, tapi ya jgn ampe juga yg terjadi malah kebalikannya...
    salah pilih bisa nyesel seumur hidup.

    lagian, saat kita berpikir kalo kita mo masuk kelas karramel krn emang “yes, I want this!” dr dlm hati terdalam, seharusnya itu menjadi sesuatu yg fun buat dijalani. berat ngelepas cita2 dan mimpi? Mustinya tidak kalo emang suda jatuh hati sama karamelnya. kalo masi berat, mungkin harus dipikir2 ulang lagi..

    soal Tuhan ingin kita ngelepas kemerdekaan total kita? mungkin bisa diartikan dgn lebih luas... perempuan itu diciptakan sebagai pendamping yg sejajar, ga dibawah, ato diatas.

    peace,
    VoNnz.

    BalasHapus
  29. @ VoNnChrizt: hai salam kenal! kayanya pertama kali kasih komen yah? hehe aku setuju tulisan ini berat sebelah.ini memang bagian dr pergumulanku yg aku share. now I'm learning to balance it, not saying that I already successful in it.

    kmu kuatir aku belum jatuh hati ya? itu bener kok Von. It's also part of the process. :)

    mengenai wanita adalah pendamping yg sejajar, aku setuju banget! aku udah pernah nulis di artikel 'Aku Sombong' maybe u can check it and tell me your opinion. Hehehe

    thanks!! I love long commentss hahaha

    BalasHapus
  30. wah wah wah....kok aku baru tau ada posting ini ya?? alamaak telat T___T

    Ciiii baca ini aku jadi keinspirasi buat nulis, "Not everything i want." ITu baru aja dikotbahin di gerejaku kemarin. bagus banget deh!! apalagi baca komen2 di atas... Emang ga semua keinginan kita itu bisa terpenuhi, bisa tercapai. Bapa di surga jauh lebih tau apa yg baik buat kita. Hmm yg jelas gak bisa dijelasin disini hoho. Ntar deh ya kapan2 aku tulis wkwk.

    En finally...ayoooo kita ketemuan lagi.... yg lebih lama....hahaa.

    BalasHapus
  31. waahhhh kena bgt...krn aq seorg feminis hahhaha jujur, waktu baca postingan ini aja udh gk rela..but i know that's truth hadeehh bnr2 harus Tuhan yg turun tangan deh :D btw thx alot

    BalasHapus

Ayo tinggalkan jejakmu di blogku! ^.^