Minggu, 29 Agustus 2010

Lady in Waiting Ch. 6 (1)

Sekarang kita masuk yuk ke ch. 6! Yg may baca ch. 5, tinggal masuk ke Lady in Waiting Ch. 5

Bab 6 Wanita yang Murni

Di sini, wanita yang murni secara khusus artinya adalah wanita yang masih perawan, belum pernah berhubungan seks dg laki2. Buku ini bener2 suggest supaya kita yg cewe2 jangan sampai melepas keperawanan sebelum menikah. Allah sangat gak pengen hal itu terjadi. Why? Kenapa Allah melarang hal tersebut? Bahkan jelas2 ada di Keluaran 20:14 "Jangan berzinah!" Karena buku ini dikhususkan untuk para cewe, yok kita liat secara khusus kenapa Allah gak pengen kita, cewe2, sampai berzinah. Sebenernya, dengan larangan itu, Allah mau melindungi kita dalam 4 hal: fisik, emosi, relasional, dan rohani.

1. Secara fisik.
Virginity, bagi kita, adalah sebuah harta yang harus kita simpan baik2 untuk kita berikan kepada seorang pria yang sudah berkomitmen di hadapan Allah bahwa ia akan membahagiakan, menjaga, dan melindungi kita di dalam pernikahan. Coba bayangin ada hadiah2 di bawah pohon Natal yang sudah diletakkan di sana 1 minggu sebelum Natal. Tapi, karena kita gak sabar pengen tau isinya, kita buka kadonya sebelum Natal tiba, let say 2 hari sebelumnya. Saat itu, kita pasti excited banget!! Tapi, karena kita ga mau orang lain tau, kita bungkus lagi kadonya, dan kita letakkan lagi di bawah pohon Natal. Pas Natal tiba, akankah kita membuka kado kita se-excited pas kita buka kado itu 2 hari sebelumnya? Pasti ngga.. Karena kita dah tau isinya. Hal ini sama bngt sama keperawanan kita. Itu adalah hadiah yang boleh kita buka setelah kita menikah, untuk mendapatkan excitement yg puooll!! :D Selain itu, Allah juga mau melindungi kita dari penyakit seks menular yang bisa kita tularkan ke suami dan anak-anak kita. Allah juga mau melindungi kita dari kehamilan yang tidak diinginkan. Dia juga ingin agar kita bebas dari kecanduan seks pra nikah. So, alasan2 Allah melarang kita, ya supaya kita sendiri bisa hidup dengan lebih bahagia.

2. Secara emosi.
Allah dengan rumit dan ahlinya membentuk wanita dengan ciri-ciri emosi yang berbeda dari pria. Seorang wanita tidak dapat memisahkan emosinya dari keadaan fisiknya (contoh: PMS). Pria yang menyentuh tubuhmu juga menyentuh emosimu. Allah menciptakan Anda demikian, dan Ia ingin menghindarkan hatimu agar tidak tercabik oleh pria mana pun. Anda tidak dapat bersetubuh dengan seorang pria dan tidak tersentuh secara emosi, bagaimanapun kerasnya Anda berusaha. Anda tidak dapat memberikan satu bagian tanpa mempengaruhi bagian yang lain! (p. 95). Setelah melakukan seks pra nikah, biasanya cewe bakal mulai dihantui oleh ketakutan2 seperti ini nih:
  • Akankah pria itu masih tetap menghormatiku? Akankah ia masih mencintaiku?
  • Mengapakah hanya itu yang ia inginkan dariku sekarang?
  • Bagaimana kalau aku hamil?
  • Akankah orang lain tahu?
  • Bagaimana jika orang tuaku tahu? Bagaimana menghadapi mereka?
  • Jika kami putus, akankah teman kencanku berikutnya mengetahuinya?

Seandainya akhirnya kalian married pun, pertanyaan2 ini akan tetap ada di hati seorang wanita:
  • Akankah ia tetap mengasihiku jika bukan karena tubuhku?
  • Akankah dia tetap menikahiku jika waktu itu aku hamil?
  • Setelah menikah akankah dia tertarik pada orang yang berpenampilan lebih baik?

Gak cuman itu. Ada lagi pertanyaan yg bakal bikin kita, kaum cewe, makin ketakutan. Akankah keselamatan yang kita terima dalam Yesus tetap berlaku bagi kita? Jawabannya: Anda dapat diampuni seutuhnya dan dibersihkan oleh Kristus, tetapi kerusakan emosi membutuhkan waktu untuk sembuh. Beban emosi yang ditimbulkan oleh rasa tertuduh, ketakutan dan keraguan bakal diperumit dengan emosi lainnya seperti penolakan, kepahitan, depresi, dan kecurigaan (p. 96). So, don't do it! Let God protect our hearts, girls!

3. Secara relasi.
Setiap cewe mempunyai kedalaman jiwa yang merindukan persahabatan yang intim dengan pria yang dikasihinya, gak cuman sekedar dikenal tubuh fisiknya aja. Pasangan yang memilih untuk tetap murni secara fisik memberikan semua waktu mereka dan perhatian mereka untuk mengenal satu sama lain pada tingkatan mental dan emosi yang lebih dalam. Begitu nafsu diperkenalkan ke dalam suatu hubungan, sulit bagi si pria untuk berhenti dan kembali dipuaskan hanya dengan mengembangkan persahabatan. Perhatian pria menjadi terakihkan pada hal fisik. Inilah mengapa begitu banyak wanita menikmati suatu hubungan sampai "persahabatan" berubah menjadi "kencan". Ada sesuatu yang hilang waktu nafsu fisik dimulai. (p. 97). Girls, kita gak bisa kasih pesan ganda. Kita harus pilih, apakah kita mau dia mengenal bagian luar kita, atau bagian dalam kita. Jika seks diizinkan masuk ke dalam suatu hubungan sebelum pernikahan, hasilnya hampir selalu adalah kehilangan persahabatan yang intim dengan orang yang Anda rindukan untuk mengenal Anda. (p. 97).

Selain itu, waktu suatu pasangan terlibat secara seks sebelum menikah, mereka menekan hati nurani mereka dengan rasionalisasi bahwa akhirnya mereka akan menikah juga, jadi ketiadaan penguasaan diri itu tidak apa-apa (p. 97). Yakin gak apa-apa gak ada penguasaan diri? Bener? Pasti nih? Begini ni kata penulisnya: Inilah letak kesalahan mereka! Tidak adanya penguasaan diri sebelum menikah adalah percabulan. Tidak adanya penguasaan diri setelah menikah adalah perzinahan. (p. 97). Biasanya, yg cewe bakal mikir gini nih.. "Jika dia tidak menunjukkan penguasaan diri dengan aku sebelum pernikahan, bagaimanakah aku dapat yakin bahwa ia tidak akan menyerah terhadap pencobaan pada masa pernikahan waktu seorang wanita muda yang menarik muncul?" Seorang pria tidak akan tiba-tiba menjadi seorang pria yang menguasai diri karena ia memakai cincin kawin! (p. 98).

Jangan lupa, pikirkan juga bagaimana malunya ortu kita akan pilihan kita itu, dan bagaimana kita akan mengajar anak2 kita tentang kemurnian kalo kita sendiri gak kasih contoh yg benar? Again, don't do it!

4. Secara rohani.
Ini rada gampang jelasinnya. Gimana kita mau bersaksi sama orang2 yg tahu tentang perbuatan kita? Gak hanya itu. Secara rohani, seseorang akan merasakan kesakitan rohani yang akut dan keterpisahan dari Allah waktu terlibat dalam seks di luar pernikahan, tetapi bahkan mungkin tidak menyadari bahwa hubungan seks dalam pernikahan itu begitu menyatukan dan menguntungkan secara rohani (p. 99). Hmm.. keterpisahan dari Allah.. Itu gak enak banget lhoo!!! Rasanya jiwa ini keriiiinnggg!! Yah, walopun saya sendiri gak punya pengalaman bahwa seks itu bisa menyatukan dan menguntungkan dari segi rohani (kan blom married..nanti saya coba tanya2 temen yg udah married aahhh..), saya percaya dengan pernyataan yg sebelumnya bahwa hubungan seks sblom married bakal menyebabkan adanya keterpisahan dari Allah. Uuuu... itu sangat gak enak. Deket Allah = enak! Pisah dari Allah = gak enak!

Okay, kita sekarang udah tau bidang2 apa saja yang ingin Allah lindungi dalam hidup kita sehingga Dia ngeluarin larangan itu. Nah, tapi godaan tetap memanggil2 dari ujung sana kaaann.. Gimana nih caranya supaya kita mampu bertahan? Jawabannya ada di blog selanjutnya! Terusin baca yaahh!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo tinggalkan jejakmu di blogku! ^.^