Sabtu, 11 September 2010

Lady in Waiting Ch. 7

Setelah sekian lama saya istirahat nulis book review, inilah saatnya saya lanjutin lagi. Ngeliat komen2 dan respon di chatbox, sepertinya banyak pembaca yang suka nih dengan book review ini. Hehe *sotoy mode: ON!* Well, semoga seri book review kali ini bisa membantu para perempuan yach! Btw readers, ayo tulis komen sebanyak2nya, spy saya tau artikel yg saya tulis ini dibaca oleh kalian. Kalo ada komen dari kalian, saya makin semangat! ;)

Kita masuk ke bab 7 yah.. Yang belum baca bab sebelumnya, bisa masuk ke Lady in Waiting Ch. 6 (1) dan Lady in Waiting Ch. 6 (2)

Bab 7 Wanita yang Memiliki Rasa Aman.

Girls, kita secara unik diciptakan oleh Allah untuk bergumul dengan rasa tidak aman. Gak percaya? Saya juga tadinya gak percaya, tapi coba lihat contoh2 yang akan saya tulis berikut ini.

  • Saya kuatir cowo itu gak akan telpon saya lagi.
  • Saya kuatir kalo cowo itu ada di sekitar wanita yang menarik, saya merasa terancam.
  • Saya sedih berhari2, bahkan berbulan2, ketika si cowo menyakiti atau mengecewakan saya.
  • Saya takut berbuat kesalahan yang menyebabkan saya kehilangan cowo itu.
  • Saya perlu terus-menerus mendengar dia bilang 'I love you' supaya saya yakin akan perasaan dia ke saya.
  • Saya ingin dia membuat komitmen agar saya tidak kehilangan dia.
  • Saya merasa perlu menunjukkan rasa cinta saya dalam kapasitas yang lebih besar lagi dan dengan cara yang leih hebat lagi.

Beberapa hal di atas ada dalam hati saya lho dulu.. Tapi, saya gak akan kasi tau point yang mana. Hehe.. Intinya, saya mau bilang bahwa saya pun seorang wanita yang tidak memiliki rasa aman. Saya bergumul dengan perasaan tidak aman. Jadilah saya menempatkan harapan saya pada sebuah hubungan agar saya bisa merasa aman.

Di bab ini secara khusus dijelaskan tentang manipulasi dan manuver para perempuan yang tidak mempunyai rasa aman. Saya pernah menyinggung sedikit tentang hal ini di review bab ke 4. Belum baca? Klik di Lady in Waiting Ch. 4. Wanita yang merasa tidak aman, cenderung mengejar2 pria. Segala cara diusahakan supaya ia bisa berdekatan dengan sang pria, berkencan, dan akhirnya menikah. Ada 3 macam contoh manipulasi dan manuver yang ditulis di buku ini:

1. Misalnya, di sebuah kampus, ada seorang pria ganteng yang baru masuk. Satu kampus jadi tahu tentang dia. Para perempuan pun ngiler pengen kenal dan deket dengan pria tersebut. Akhirnya, mereka menanyakan jadwal kelas pria itu ke bagian kemahasiswaan. Dengan punya jadwal si pria di tangan mereka, mereka bisa berlari secepat mungkin ke mana pun si pria itu kemungkinan besar akan lewat, dan para perempuan itu akan secara "kebetulan" ada di pojok saat sang pria lewat. Setiap hari, manipulator yang berkomitmen ini "kebetulan" melihat dia setelah kelas sastra Inggris dan kemudian "kebetulan" melihat dia setelah kelas Kewarganegaraan Dunia (p. 114). Mau ngapain coba ngikut2in tu cowo? Memanipulasi keadaan sampe kaya gitu? It's not wise, girls.. Useless juga..

2. Manipulasi dalam bentuk melayani sebagai "pemeran pengganti." Misalnya nih, situasinya lagi di tengah2 sebuah konferensi. Ada seorang pria yang bilang bahwa ia membutuhkan beberapa name tag. Ehh.. kemudoan segerombolan perempuan buru2 lari dan berlomba untuk memberikan name tag sebanyak2nya ke pria itu. Emangnya ini lagi lomba? Ckck.. Ngapain coba lari2, berebutan kasi name tag ke pria yang membutuhkannya? Ada contoh lain niih.. Ada seorang cowo yang bilang butuh bantuan untuk membersihkan rumahnya karena ortunya mau berkunjung ke tempatnya. Datanglah seorang wanita yang menawarkan bantuan untuk membersihkan rumahnya. Wanita ini mengasumsikan bahwa pria ini akan begitu menghargai pertolongannya sehingga pria ini akan membalasnya dengan memberikan perhatian ekstra kepadanya, atau bahkan mungkin dengan sebuah kencan. Pada saat yang bersamaan, dia tahu bahwa salah seorang teman wanitanya juga membutuhkan bantuan, tetapi ia tidak mengajukan diri untuk membantu teman wanitanya (p. 115). Nah kaan... Membantunya gak tulus.. Jangan manipulatif deh kalo ngebantu orang. Jangan melakukan sesuatu ke cowo kalau kita gak pernah melakukannya untuk temen2 cewe kita. Biasanya kita jadi berharap cowo itu jatuh cinta sama kita, karena kita telah membantu mereka. Berikanlah bantuan kita kepada semua orang. Ingat: Awalnya, Rut melayani bukan untuk seorang pria yang diminati, tetapi untuk seorang janda yang pahit - terlebih lagi itu adalah ibu mertuanya (p. 116).

3. Manipulasi dengan menjadi "ibu" bagi si pria. Beberapa wanita menyediakan makan, menjahitkan kancing, dan mencuci pakaian si pria - semua hal yang akan dilakukan oleh seorang ibu - dengan asumsi semua ini adalah latihan untuk masa depan mereka bersama (p.116). Kadang2 kalau pria itu belum jadi pacarnya, sang wanita tetap melakukannya dengan harapan si pria memperhatikannya dan jatuh cinta kepadanya. Benar gak pemikiran semacam ini? Jawabannya: Salah! Mudah bagi seorang pria, apakah ia tua atau muda, untuk membiarkan seorang wanita berkorban baginya. Mengapa? Kebanyakan pria sudah terbiasa dengan pengorbanan-pengorbanan seorang wanita. Ibunya yang baik telah terus berkorban sejak ia berada dalam kandungan. Pasti, pria muda itu akan berkata, "Terima kasih," tetapi para pria muda itu tidak menikahi ibu mereka! (p. 116). Jangan berusaha menjadi "ibu" bagi seorang pria yang kalian sedang taksir yaah..

Jadi, apa donk yang harus kita lakukan pada pria yang sedang kita taksir? Elisabet Elliot answered: TIDAK ADA! (dari buku Passion and Purity, karangan Elisabeth Elliot).
Yang harus kita lakukan adalah: tetap mengarahkan pandangan kita pada Kristus dan taat padaNya. Allah memiliki metodenya sendiri untuk mempertemukan kalian berdua. Ia tidak memerlukan pertolongan atau nasihat darimu (p. 117).

Bab ini bukan mau bilang bahwa kita gak boleh berbuat baik pada pria. Tapi, bab ini mau mengajarkan kita untuk memeriksa motivasi2 kita di balik perbuatan baik kita. Kalau kita rajin memeriksa motivasi kita, kita akan terhindar dari sakit hati yang tidak perlu. Jangan bikin2 strategi2 sendiri dan akhirnya memanipulasi keadaan dan melakukan berbagai macam manuver. Stop doing it! Percayakan soal pasangan hidup kita pada Tuhan Yesus. Anda hanya dapat melihat bagian luar seorang pria dari sudut pandang masa sekarang. Allah melihat hati pria dari sudut pandang kekekalan (p. 118).

Teman2, sekali lagi saya suggest teman2 membaca bukunya langsung yaah... Jangan baca review ini saja. :)

2 komentar:

  1. bener banget, gun, gw juga bergumul dgn rasa tdk aman... bahkan di kerjaan >,<

    oya, u punya buku elisabeth elliot? kyny bagus tuh.. soalnya joshua harris banyak ngutip dr situ juga...

    BalasHapus
  2. kaga punya nit bukunya. itu krn ditulis di buku Lady in Waitingnya.. tapi karena bukan dia yg tulis, jadi gw tulis juga namanya si Elisabeth Elliot. iyaa.. gw emang nyari juga tu buku..

    BalasHapus

Ayo tinggalkan jejakmu di blogku! ^.^